Categories:

Pengaruh Ghosting Pada Kesehatan

Apa arti kata ghosting ?

Ghosting diartikan sebagai perilaku menghilang tiba-tiba saat sedang berada di tengah hubungan atau saat pendekatan. Ada banyak alasan yang bisa menyebabkan hal ini terjadi. Namun, seringnya pelaku ghosting memilih cara ini untuk menghindari sebuah komitmen, hubungan serius, takut menyakiti perasaan pasangan, atau memang sudah merasa tidak tertarik lagi. Apapun alasannya, ghosting sebenarnya bukanlah hal yang baik, sebab bisa memberi dampak bagi korbannya.

Ghosting atau tiba-tiba menghilang dari kehidupan seseorang tanpa perlu menelepon, email, atau SMS, telah menjadi fenomena umum di dunia kencan modern, lingkungan sosial, dan profesional lainnya. Menurut hasil dari dua studi 2018, sekitar 25 persen orang telah menjadi ghosting, paling banyak terjadi dalam hubungan kencan online.

Menurut Psikolog Klinis Dewasa Nirmala Ika, ghosting bisa digunakan sebagai cara untuk menghindar perlahan-lahan. “Atau cara untuk menunjukkan ke pasangannya kalau kamu enggak salah, saya yang salah dalam relasi ini,” ujarnya

Alasan orang melakukan ghosting

Perilaku ghosting bisa terjadi karena banyak penyebab. Mulai dari rasa takut akan menghadapi sesuatu, menghindari konflik dengan orang lain, hingga kurangnya rasa tanggung jawab. Ia mungkin memiliki anggapan bahwa menghilang dari kehidupan orang lain tidak akan memiliki dampak yang besar.

Pengaruh ghosting pada kesehatan mental

Menurut Jennice Vilhauer, seorang psikolog di The Well Mind Institute di Beverly Hills, California

sekaligus Asisten Profesor Klinis di University of California, Los Angeles, ghosting dapat berdampak serius pada kesehatan mental seseorang. Sehingga dampak ghosting tidak boleh dianggap sepele.

Dampak ghosting pada kesehatan mental meliputi:

1. Kebingungan

Kebingungan bisa terjadi pada korban ghosting karena mereka sulit memahami kondisi yang sedang terjadi. Ghosting dianggap mirip dengan ‘silent treatment’ yang membuat korbannya tidak bisa memahami situasi hingga kebingungan. Dilansir dari Psychology Today, ghosting juga bisa dianggap sebagai kekejaman emosional karena korbannya tidak mendapatkan penjelasan apapun soal situasi yang ia hadapi.

2. Menyalahkan diri sendiri

Korban ghosting juga bisa memiliki perilaku yang cenderung menyalahkan diri sendiri. Hal ini bisa terjadi karena mereka tidak mengetahui jelas kesalahan apa yang membuat mereka ‘dijauhi’. Ketika berkelanjutan, menyalahkan diri sendiri secara terus menerus juga bisa berdampak buruk untuk rasa kepercayaan diri.

3. Merasa rendah diri

Kehancuran harga diri juga bisa jadi salah satu dampak dari menerima perilaku ghosting. Terutama bila hubungan yang berakhir adalah hubungan asmara. Hal ini dapat membuat korban merasa kesulitan mentolerir rasa sakit akibat ditinggalkan yang kemudian meningkatkan rasa ketidakpercayaan diri.

4. Merasakan rasa sakit yang sama seperti sakit fisik

Faktanya, rasa sakit fisik dan rasa sakit emosional sebenarnya berada di jalur saraf yang sama. Dilansir dari data American Psychology of Association, penelitian yang menunjukkan bahwa perilaku ghosting atau penolakan sosial  menyebabkan tingkat rasa sakit yang sama dengan yang disebabkan oleh cedera pada tubuh.

Hal ini disebabkan otak yang mengaktifkan sinyal sakit sehingga rasanya terasa sama dengan rasa sakit fisik. Tidak heran, beberapa orang yang menjadi korban ghosting merasakan sakit yang mengganggu.

Itu tadi penjelasan mengenai efek samping ghosting pada kesehatan mental. Sedikit banyak, dampak tersebut tentu akan berpengaruh pada kehidupan sosialmu.

Bila kamu baru saja menjadi korban ghosting dan tidak bisa mengatasinya sendirian, cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog ya. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik, jadi harus dijaga ya.

Artikel ini telah tayang pad aci-agro.id dengan judul “Pengaruh Ghosting Pada Kesehatan” dengan permalink  https://aci-agro.id/blog/pengaruh-ghosting-pada-kesehatan / ‎

One thought on “Pengaruh Ghosting Pada Kesehatan

Comments are closed.